PROBLEMATIKA PENERAPAN PERJANJIAN BAGI HASIL MUDHARABAH PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO

Posted on 29 Maret 2010

4


foto bersama dosen bpk.fuadi

Penulisan Hukum (skripsi) ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perkembangan ekonomi syariah khususnya lembaga keuangan mikro syariah sebagai alternatif perekonomian konvensional yang memakai sistem riba. Lembaga keuangan mikro syariah hadir untuk menawarkan alternatif perekonomian yang terbebas dari riba dan dapat dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. BMT adalah salah satu bentuk lembaga keuangan mikro syariah. Salah satu produk yang dihasilkan BMT adalah pembiayaan mudharabah. Dalam perjalanannya lembaga keuangan mikro syariah tersebut mempunyai beberapa problematika, salah satu problematika yang dihadapi adalah problematika dibidang hukum. Untuk itu penulis mengadakan penelitian untuk mengetahui problematika hukum apa saja pada produk mudharabah yang dialami oleh BMT dan solusi apa yang telah ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut.

Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. penggalian data dilakukan dengan metode wawancara, studi dokumen dan studi pustaka. Data yang diperoleh dianalisa dengan metode analisis interaktif.

Hasil dari penelitian menunjukan bahwa dalam melaksanakan perjanjian bagi hasil mudharabah pada lembaga keuangan mikro khususnya Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) terjadi beberapa problematika di bidang hukum. Problematika tersebut yaitu pertama nasabah sering lalai menyetorkan hasil keuntungan yang telah diperjanjikan kepada BMT baik disengaja atau tidak. Kedua sebagian nasabah menggunakan dana pembiayaan mudharabah untuk keperluan di luar perjanjian sehingga merugikan BMT. Ketiga terjadi penyimpangan terhadap nisbah misalnya kentungan yang dibagi dengan BMT tidak berbentuk persen tetapi berbentuk nominal. Keempat nasabah sering menyembunyikan keuntungan atau memberikan keuntungan tidak sesuai dengan kenyataan dan isi perjanjian. Kelima BMT memprediksikan keuntungan nasabah penabung mudharabah, padahal usaha belum dijalankan. Keenam keuntungan ditetapkan dalam jumlah tertentu oleh satu pihak. Ketujuh pengalihan bentuk perjanjian mudharabah ke perjanjian Qardul Hasan bagi nasabah pailit tanpa perjanjian tertulis. Kedelapan nasabah penabung mudharabah tidak mau rugi.

Penelitian ini juga menghasilkan solusi. Solusi tersebut pertama memberikan pengarahan kepada nasabah terkait sesuatu yang belum dipahami secara komprehensif. Kedua melakukan penyitaan ketika nasabah melanggar perjanjian. Ketiga membenahi kinerja BMT menjadi lebih baik.

Implikasi teoritis penelitian ini untuk mengetahui problematika penerapan perjanjian mudharabah di BMT sekaligus solusinya sedangkan implikasi praktisnya adalah hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan bagi pihak-pihak terkait.

Posted in: Dunia Syari'ah